Blog Burung | Tutorial Burung

Wednesday, September 7, 2016

Panduan Cara Beternak Burung Murai Batu untuk Pemula

Tipsburung.com - Membudidayakan burung murai batu dewasa ini sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, harga anakan burung murai batu jenis biasa (non trah juara) saja sampai mencapai jutaan rupiah setiap pasangnya. Belum lagi jika misalnya indukannya dari burung berprestasi, tentu saja akan jauh lebih menguntungkan lagi.

Meskipun anakan yang dilahirkan indukan-indukan tersebut masih gambling, namun trah juara masih diyakini mempunyai peran yang sangat penting untuk menentukan masa depan dan prospek anakan-anakan yang dilahirkannya. Karenanya, anakan murai batu dari trah juara masih menjadi incaran semua pencetak dan pemain murai batu.


sepasang murai batu siap berproduksi (source: jualo.com)

Teknik breeding burung apapun sebenarnya hampir sama, baik dalam hal proses pencarian indukan, penjodohan, hingga proses pengembangbiakannya. Namun begitu, untuk murai batu mempunyai beberapa hal penting yang harus diperhatikan dengan saksama. Sebab, sebagaimana diketahui bahwa burung murai batu termasuk burung yang mempunyai fighter sangat tinggi sehingga tidak jarang selama proses penjodohan kerap kali meminta korban.

Nah, di bawah ini akan dijelaskan cara mudah menangkar atau beternak burung murai batu tersebut.

Pemilihan indukan
Pertama-tama Anda harus memilih dan menentukan calon indukan murai batu yang akan anda tangkarkan. Pemilihan calon indukan ini meliputi dua hal sebagaimana berikut.

1# Usia
Burung murai batu yang paling baik untuk ditangkarkan adalah burung yang sudah berusia mapan. Mapan di sini maksudnya adalah di mana burung murai batu sudah berumur, paling tidak satu tahun ke atas. Namun untuk murai batu jantan, sangat disarankan untuk memilih indukan yang berusia minimal dua kali ngurak atau sekitar usia 2 tahun.

Usia murai batu yang mapan memungkinkan proses breeding menjadi lebih lancar. Bisa dipastikan setelah jodoh, tanpa menunggu waktu lama, burung murai batu bisa langsung berproduksi.

Hal di atas berbeda halnya dengan murai batu yang masih berusia muda. Burung ini kerap kali masih membutuhkan waktu agak lama dalam produksinya karena meskipun sudah berjodoh kadang tidak berhasil melakukan pembuahan.

2# Katuranggan
Jika anda tidak memilih burung murai batu jantan yang sudah berprestasi sebagai calon indukannya, perhatikan katuranggannya dengan baik. Pilih burung murai batu yang memiliki katuranggan bagus sebab ini bisa melahirkan anakan-anakan yang juga bagus nantinya.

Katuranggan anakan burung murai batu yang bagus akan menaikkan nilai jual di kemudian hari. Sebab, burung dengan katuranggan bagus biasanya mempunyai mental, speed, kicauan yang juga bagus. Beberapa perilakunya pun akan sangat mirip dengan indukannya.

Karenanya, pilihlah calon indukan murai batu, baik jantan maupun betina, yang mempunyai paruh besar, kepala kotak, mata belok atau besar bulat dan melotot, dan fighter. Pilih pula burung murai batu yang mempunyai kaki tinggi dan model x sebab ini kadang kala sebagai sinyal burung dengan show yang istimewa.

3# Pilih yang jinak
Ada hal penting lain yang harus Anda perhatikan dalam memilih calon indukan. Pastikan saat Anda memilih calon indukan burung murai batu, burung tersebut sudah jinak dan tidak takut pada apapun. Sebab, burung jinak dan pemberani seperti ini sangat penting dalam membantu kesuksesan preding yang Anda lakukan.

Lokasi breeding
Lokasi breeding sangat menentukan sukses dan tidaknya penangkaran yang anda lakukan. Lokasi yang aman dan nyaman adalah lokasi breeding paling baik. Karenanya, sebelum Anda membuat kandang, tentukan lokasi breeding terlebih dahulu. Pilih lokasi yang nyaman dan jauh dari suara bising sebab selama proses breeding, burung murai batu sangat membutuhkan ketenangan.

Selain itu, lokasi breeding juga harus aman dari jangkauan anak-anak dan binatang buas seperti kucing, tikus, dan lain sebagainya. Gangguan-gangguan seperti itu sangat berisiko karena bisa membuat burung murai batu yang lagi angkrem / mengeram atau meloloh sangat terusik. Akibatnya, bukan tidak mungkin jika mendapatkan gangguan burung murai batu bisa menjadi kanibal pada telur dan anak-anaknya.
 

Ukuran kandang
Kandang yang sangat disarankan untuk breeding anda adalah menggunakan sangkar permanen. Adapun ukurannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Namun biasanya, untuk kandang minimalis bisa berukuran 100 x 60 x 60 cm atau 50 x 70 x 70 cm. Tetapi bisa juga mengunakan kandang dengan ukuran 2 x 1,5 x 2 meter atau 1,5 x 1 x 1.8 m.

Intinya, buatlah sangkar sesuai dengan lokasi dan kondisi. Sebab, besar dan kecilnya sangkar tidak berpengaruh besar sepanjang anda bisa memberikan rawatan yang baik pada burung murai batu anda.


contoh kandang breeding milik SKL Bird Farm (source: sklbirdfarm.com)

Proses penjodohan
Dalam menjodohkan burung murai batu hendaknya harus waspada dan berhati-hati sebab ini mempunyai tantangan yang cukup berbahaya. Jika burung murai batu jantan atau betina terlalu fighter, meskipun sudah saling berjodoh, kadang kala masih suka saling menghajar satu sama lain.

Dalam beberapa kasus, hal ini sering kali berakhir dengan kematian salah satu burung murai batu tersebut. Dan biasanya, burung yang paling sering menjadi korban adalah murai batu betina.

Karenanya, di samping harus waspada dan hati-hati, ada beberapa hal berbeda yang harus Anda lakukan dalam menjodohkan burung murai batu tersebut untuk mengurangi risiko tersebut.

Pertama-tama, dekatkan kedua sangkar burung murai batu jantan dan betina. Burung murai batu betina yang berjodoh akan menunjukkan perilaku di mana burung sering membuka mulutnya layaknya burung anakan yang minta diloloh.

Sedangkan pada burung murai batu jantan juga akan bereaksi mengejar burung murai batu betina dan hendak mengawininya.

Jika proses ini berjalan lancar pada hari pertama, esok harinya perlu dicoba kembali hingga tiga atau empat hari. Dan jika selama proses percobaaan setiap harinya menunjukkan gelaja yang sama,utamanya pada burung jantan, maka proses penjodohan selanjutnya dilakukan di kandang ternak.

Burung murai batu betina harus dimasukkan terlebih dahulu selama kurang lebih 10 hari. Hal ini bertujuan agar burung murai batu betina ini bisa mengenal lingkungan barunya tersebut dengan baik. Sehingga jika suatu saat dihajar oleh burung murai batu jantan, ia bisa mengendalilkan dirinya dengan baik.

Setelah 10a-an hari kemudian, burung murai batu jantan bisa dimasukkan juga ke dalam sangkar breeding. Namun begitu, burung murai batu jantan tidak boleh dilepas tetapi tetap berada dalam sangkar harian.

Dalam kondisi seperti ini, birakan kedua murai batu tersebut selama kurang lebih 2-3 minggu. Hal ini bertujuan supaya kedua burung murai ini bisa lebih saling mengenal lagi satu sama lain sehingga tidak berkelahi ketika murai batu jantan dilepaskan di kemudian hari.

Setelah itu, burung murai batu jantan bisa dilepas supaya bisa kontak langsung dengan murai batu betina. Mulai hari itu hingga dua minggu ke depan, anda harus bisa melakukan pemantauan dengan ketat. Dikhawatirkan burung terjadi kontak fisik yang bisa mematikan salah satunya.

Jika ternyata terjadi kontak fisik, burung murai batu jantan bisa diambil dan dimasukkan kembali ke dalam sangkar harian. Selanjutnya, pisah kedua burung tersebut dan baru sebulan kemudian dilakukan penjodohan kembali seperti sebelumnya.

Perhatian selama burung murai berproduksi
Saat burung murai batu telah berproduksi, anda harus benar-benar bisa menjaga kenyamanan dan keamanan sangkar breeding dan lingkungannya. Jangan sampai ada suara-suara gaduh yang bisa menyebabkan burung merasa kaget dan terusik.

Selain itu, jika tidak benar-benar terpaksa, sangat tidak disarankan untuk melihat kondisi sarang, kecuali sudah terbiasa. Sebab, dikhawatirkan indukan sangat sensitif sehingga proses angkrem atau meloloh tidak dilanjutkan oleh indukan lagi oleh burung murai batu anda. Bahkan Anda juga dilarang keras untuk memegang telur atau anakan karena sangat rawan indukan menjadi kanibal.


anakan yang sudah disapih saat berumur 7 hari (source: binatangpeliharaan.org)

Perawatan anakan
Anakan yang sudah berumur 7 hari bisa anda pisah atau sapih. Selanjutnya, loloh sendiri dengan menggunakan voer campur kroto. Pemebrian makan bisa dilakukan dua jam sekali selama belum bisa makan sendiri.

Jika anakan masih terlalu kecil saat disapih, sebaiknya gunakan bohlam berukuran 5 wat. Hal ini bertujuan untuk menghangatkan anakan burung tersebut sehingga akan lebih sehat dan bertahan hidup dengan baik.

Pemberian EF
Sebagian besar para breeding murai batu memberikan EF lebih banyak saat burung murai berada dalam kandang penangkaran. Bahkan pemberian kroto kerap kali diberikan setiap hari guna ingin membuat burung indukan ini benar-benar terjaga nutrisinya. Namun tidak sedikit pula yang memberikan EF standar sebagaimana rawatan harian.

Untuk itu, berikan EF sesuai kebutuhan burung saja. Jika burung agak loyo, Anda bisa memberikan EF lebih dan menambahkan kroto ke dalam menu harian burung murai batu dalam penangkaran, paling tidak setiap dua hari sekali.

Demikian panduan budidaya burung murai batu yang dapat anda terapkan di rumah. Selamat mencoba dan semoga sukses.

Panduan Cara Beternak Burung Murai Batu untuk Pemula Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Leo Sayoga

0 komentar:

Post a Comment