Blog Burung | Tutorial Burung

Friday, April 14, 2017

Sejarah Lomba Burung Berkicau di Indonesia

Tipsburung.com - Tahukah Anda, sejak kapan gelaran lomba burung terselenggara di Indonesia? Tulisan ini mengulas secara singkat berdasarkan data-data yang sangat terbatas dan langka, baik melalui dokumen (artikel/buku) maupun keterangan lisan dari sejumlah kesaksian para penghobi burung angkatan lawas yang secara informal bincang-bincang santai dengan saya.

Suasana lomba burung di Yogyakarta

Jika merujuk pada data formal, tahun 1973 terbentuk Pelestarian Burung Indonesia (PBI). PBI yang menjadi organisasi perburungan dan sekaligus sebagai EO (event organizer) pertama di Indonesia telah menginspirasi lahirnya EO dan organsiasi serupa yang kita kenal sampai sekarang.

Merujuk pada tulisan Rusli Turut (2012), bahwa kontes burung berkicau pertama kali diadakan pada pertengahan tahun 1976. Itu artinya diselenggarakan 3 tahun setelah berdirinya PBI. Penggagasnya adalah para pedagang burung Pasar Pramuka Jakarta yang dimotori oleh Bapak Sharbo (alm.) yang juga sebagai salah seorang yang ikut membidani terbentuknya PBI.

Adapun tujuan kontes saat itu untuk menggairahkan atau meramaikan pasar burung, sehingga bisa merangsang munculnya penggemar baru dan meningkatkan penjualan burung-burung yang dipasarkan. Burung-burung yang dikonteskan ketika itu baru burung impor jenis hwa mei, poksay, kenari bersama burung lokal murai batu dan cucakrawa.

Namun aktivitas gelaran lomba secara informal, sebenarnya juga dapat dilacak sebelum tahun 1976 atau bahkan sebelum 1973 lahirnya PBI. PBI yang bertindak sebagai EO waktu itu hanyalah menghimpun komunitas penghobi burung yang berserak.

Tetapi aktivitas seorang yang menyukai kicauan burung telah ada sebelum tahun 1973, yaitu sebagai ajang silaturahmi, kumpul bersama dengan teman, bahkan sanak kerabat, yang di antara mereka menganjurkan agar sama-sama membawa burung kicaunya masing-masing.

Paul Jepson, ilmuwan dari Pusat Lingkungan Universitas Oxford Inggris, yang dimuat di BirdAsia 9 (2008), menulis artikel berjudul Orange-headed thrush/Zoothera citrina and the avian X-factor, yang menjelaskan perbedaan karakter para pecinta burung di Barat dengan Indonesia. Paul Jepson mengapresiasi istilah “kicaumania”, sebagai nama khas bagi penghobi dan penikmat kicau burung di Indonesia.


Di Barat, tulis Paul Jepson, pecinta burung hanya malakukan ternak, identifikasi apakah burung tersebut langka atau tidak, dan bagaimana penyebaran populasinya.

Sedangkan di Indonesia, penghobi burung selain ternak dan bahkan melakukan uji coba kawin silang sehingga menghasilan postur serta variasi warna, juga menikmati kicauannya, dan disemarakkan oleh adanya lomba maupun sekadar koleksi di rumah (klangenan).

Ajang kontes burung pada awal-awal terselengara terkadang tidak hanya sekadar lomba biasa, tetapi menunjukkan strata sosial, antara “yang miskin” dengan “yang kaya”. Cucakrowo, misalnya, identik dengan orang kaya dan krutukan identik dengan orang biasa/miskin.

Seiring perkembangan zaman, kesenjangan sosial itu tidak berlaku lagi, sebagaimana terlihat saat sekarang, hobi burung menyatukan semua lapisan dan strata sosial.

Sampai pada akhir tahun 1980-an hingga awal 1990-an, klasifikasi lomba burung terus meningkat tajam dengan ditambahkan kelas campuran. Jenis-jenis burung yang di tahun 2000-an awal populer seperti anis merah, pada mulanya masuk di kelas campuran pada 1990-an, termasuk cendet. Popularitasnya belum mampu menandingi anis kembang, apalagi burung-burung impor asal China.


Para pemenang lomba burung saat ini diberikan cinderamata berupa piagam dan piala

Namun setelah itu, munculnya wabah flu burung di China, ditambah lagi dengan virus SARS (sindrom sistem pernafasan akut) di tahun 2000, memaksa Pemerintah Indonesia menyetop impor burung asal China dan dari negara-negara lain. Dampaknya, lomba burung di kelas hwamei, poksay, dan robin langsung lenyap.

Burung-burung lokal pun menjadi tuan rumah di negeri sendiri, terutama anis kembang. Pamornya meroket hingga awal dekade 2000-an. Kini baik anis kembang maupun anis merah kalah populer dengan kenari, love bird, kacer, dan lain-lain.

Dari segi pemberian hadiah juga berbeda antara generasi awal, pertengahan, dan modern sekarang. Pada generasi awal, hadiah lomba burung cukup dengan nominal uang saja, sedangkan pada era pertengahan, katakanlah akhir tahun 1980 hingga 1990-an, pemberian hadiah dilakukan secara mewah seperti selebrasi dalam dunia otomotif yang setiap pemenangnya disediakan panggung khusus. Tropi hadiah di era tahun 1990-an, bisa setinggi anak usia TK.

Bagaimana dengan era sekarang? Tropinya kerdil, hadiah uangnya juga banyak dipotong pajak EO

Sejarah Lomba Burung Berkicau di Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Leo Sayoga

0 komentar:

Post a Comment